Tampilkan postingan dengan label kimia organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia organik. Tampilkan semua postingan

etilena, bahan baku dan hormon tumbuhan


Etilena merupakan alkena paling sederhana, menempati peringkat pertama di antara bahan-bahan  kimia organik yang diproduksi dalam skala industri. Saat ini produksi tahunan etilena di AS lebih dari 29 miliar kg. Propena menempati peringkat berikutnya dengan sekitar setengah dari produksi etilena.
Kimiawan telah mensintesis senyawa yang dapat melepas etilena dalam tanaman secara erkedali. Salah satunya adalah asam 2-kloroetilfosfonat, ClCH2CH2PO(OH)2. Zat ini dijual oleh Union Carbide dengan nama dagang etrel, yang larut dalam air dan diserap tumbuhan, kemudian dipecah menjadi etilena, klorida, dan fosfat. Senyawa ini digunakan secara komersial untuk merangsang buah seperti nanas dan toomat agar mateng secara bersamaan sehingga seluruh ladang dapat dipanen secara efisien. Etilena juga digunakan untuk mengatur petumbuhann tanaman pangan lainnya seperti gandum, apel, ceri, dan kapas. Hanya sebagian kecil dari senyawa tersebut yang digunakan, sebab tumbuhan sangat peka terhadap etilen dan menanggapi konsentrasi yang lebih rendah dari 0,1 ppm.

story of eyes from organic chemistry


Warna molekul organik biasanya berhubungan dengan luasnya sistem terkonjugasi ikatan rangkap. Contohnya ɮ-karoten, pigmen kuning jingga yang dijumpai pada wortel dan tumbuhan lainnya. Hidrokarbon C40H56 ini memiliki 11 ikatan rangkap karbon-karbon yang berkonjugasi. Zat ini merupakan prekusor biologis bagi vitamin A, yaitu alkohol tak junuh berkarbon 20, yang juga disebut retinol. Retinol ini menghasilkan senyawa kunci yang terlibat dalam penglihatan, yaitu 11-cis-retinal. Konversi vitamin A menjadi cis retinal tidak saja melibatkan oksidasi gugus alkohol (-CH2OH) menjadi aldehida (-CH=O), tetapi juga isomerisme transàcis pada ikatan rangkap C11-C12.
Isomerisme cis-trans memainkan peran penting dalam proses penglihatan. Sel batang dalam retina pada mata mengandung pigmen merah dan peka cahaya yang disebut rodopsin. Pigmen ini terdiri atas protein opsin yang bergabung pada tapak aktifnya dengan 11-cis-retinal. Bila cahaya tampak dengan energi yang sesuai diserap oleh rodopsin, maka kompleks cis-retinal berisomerisasi menjadi isomer trans. Proses luar ini biasanya kecepatannya terjadi hanya dalam hitungan pikodetik (10-12 detik). Struktut trans retinal, bentuk isomer cis dan trans sangat berbeda. Kompleks trans retinal dengan opsin (disebut metarodopsin II) kurang stabil dibandingkan kompleks cis-retinal, dan komplek ini mwngurai menjadi opsin dan trans-retinal. Perubahan geometri in memicu tanggapan dalam sel saraf batang yang ditransmisikan ke otak dan diterima sebagai penglihatan.
Klo Cuma hal ini aja yang terjadi, kita cuma mampu melihat sekejap aja, cz semua 11-cis retinl yang ada dalam sel batang dengan cepat akan terkonsumsi. Untung enzim retinal isomerase, dengan bantuan cahay, mengkonversi kembali trans-retinal menjaadi isomer 11-cis, sehingga siklus ini dapat diulangi. Ion kalsium dalam sel batang dan membrannya mengendalikan seberapa cepat sistem penglihatan ini pulih setelah terpapar cahaya. Ion ini juga membantu adapatasi sel terhadap berbagai tingkat pencahayaan. 
Penggambaran ini disederhanakan sebab sebenarnya terdapat beberapa intermediet tambahan di antara rodopsin dan trans-retinal dan opsin yang teurai sempurna.
Struktur beta karoten, retinol (vit A) dan 11-cis retinal

Hart-Craine_Hart Kimia organik edisi kesebelas